Penurunan harga saham dan pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan banyak pihak. Pemerintah bersama Bank Indonesia diharapkan segera mengambil langkah konkret mengatasi gejolak ekonomi di pasar finansial.
Ekonom Universitas Gajahmada sekaligus Komisaris PT Bank Permata
Tbk, Tony Prasetiantono, Senin 26 Agustus 2013, mengungkapkan bahwa saat
ini pemerintah harus waspada menghadapi kondisi eksternal yang mulai
mengkhawatirkan.
"Jujur saja, external balance kita mengkhawatirkan. Neraca
perdagangan bakal defisit US$6 miliar tahun ini, padahal biasanya
surplus US$20 miliar sampai US$40 miliar," kata Tony kepada VIVAnews di Jakarta.
Selain defisitnya necara perdagangan akibat tingginya impor, Tony
juga mengingatkan sekarang ini para pengusaha harus mulai waspada
terhadap tingginya jumlah utang swasta yang akan jatuh tempo pada
September mendatang.
"Utang swasta total US$250 miliar, saat krisis 1998 hanya US$65
miliar, yang jatuh tempo US$22 miliar pada September nanti, " ujarnya
menambahkan.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank
Indonesia, Senin, rupiah menguat tipis di level Rp10.841 per dolar AS,
dari perdagangan sebelumnya yang melemah dan menyentuh posisi
Rp10.848/dolar AS.(np)
0 comments:
Post a Comment