Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, rupiah tak berkutik di level lemah. Salah satunya, akibat kecemasan pasar akan terjadinya serangan militer AS ke Suriah.
Lebih jauh Christian menejelaskan, pernyataan Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyatakan, pihak AS menentang penyerangan menggunakan senjata kimia terhadap penduduk sipil yang menyebabkan 1.000 orang meninggal di Suriah.
"Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 10.905 dengan level terkuat 10.830 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu terhadap dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (27/8/2013).
Lalu, kata dia, ada bukti-bukti lebih lanjut yang membuat pasar yakin bahwa besar kemungkinan memicu aksi militer AS atas Suriah. Kondisi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan negara-negara produsen minyak di kawasan sekitarnya. "Apalagi, ada risiko juga konflik menyebar ke negara-negara tetangga produsen minyak," ujarnya.
Di Indonesia, kata dia, itu juga bisa memicu risiko kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri di tengah perlambatan ekonomi yang sedang berlangsung. "Semua itu, memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah," ungkap dia.
Pada saat yang sama, sentimen dari AS negatif. Sebab, prospek pengurangan stimulus The Fed pada September 2013 indikasinya semakin kuat. "Hal itu terjadi setelah Simposium Jackson Hole akhir pekan lalu," ucapnya.
Dia menjelaskan, setelah simposium Jackson Hole akhir pekan lalu, muncul polling dari para ekonom yang hadir dan menunjukkan semakin kuatnya indikasi bahwa jika stimulus The Fed dilanjutkan pun, kurang efisien dampaknya terhadap perekonomian. "Presentasi di Jackson Hole lebih fokus pada strategi keluar dari fase pelonggaran moneter secara ageresif," tuturnya.
Artinya, kata dia, siklus Quantative Easing (QE) akan segera berakhir. "Kondisi ini terefleksi pada kenaikan yield obligasi AS untuk tenor 10 tahun mendekati level 3% di level 2,77% dari level tertingginya 2,88% dan belum ada tekanan turun ke 2,5%. "Ini kuat mengindikasikan kenaikan suku bunga The Fed," timpal dia.
Pada saat bersama, lanjutnya, kepercayaan para investor belum pulih meskipun pemerintah mengeluarkan empat paket kebijakan yang terbaru. "Paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah sebenarnya bagus," ucapnya.
Sebab, pemerintah akan fokus pada pengurangan defisit neraca berjalan sambil mempertahankan nilai tukar, dan berusaha mengelola pertumbuhan ekspor dan daya beli. Pada saat yang sama, pemerintah memerangi inflasi dan meningkatkan investasi.
"Tapi, langkah-langkah itu dinilai pasar lebih bersifat jangka menengah panjang. Untuk jangka pendek ini, pasar lebih khawatir pada masalah geopolitik di Suriah," tandas dia.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah 0,08% ke posisi 81,51 dari sebelumnya 81,47. "Terhadap euro, dolar AS masih berjalan ditransaksikan menguat ke US$1,3340 dari sebelumnya US$1,3369 per euro," imbuh Christian.
http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2023646/rupiah-tak-berkutik-di-level-lemah
0 comments:
Post a Comment